March 14, 2018

Integrasi, Integrasi, Integrasi

Jakarta sebagai kota metropolitan dituntut menjadi kota serba ada. Karenanya berbagai layanan dan fasilitas tersedia untuk memudahkan penduduknya beraktivitas. Sayangnya, hal ini tidak berlaku untuk layanan transportasi. Malah seringkali, transportasi menjadi kendala mobilitas penduduk Jakarta.

Dulu, angkutan umum reguler seperti KWK, Mikrolet, Metro Mini dan Kopaja menjadi andalan warga dalam beraktivitas. Bahkan angkutan-angkutan umum reguler ini menjadi ikon kota Jakarta yang sering disematkan dalam berbagai souvenir, karikatur hingga meme yang menggambarkan Jakarta. Perkembangan zaman dan juga teknologi perlahan mulai menggerus angkutan-angkutan umum reguler. Warga mulai mencari kenyamanan dan ketepatan waktu untuk mobilitas. Kendaraan pribadi kembali menjadi primadona, ditambah kehadiran ojek online menawarkan point-to-point trip bagi penggunanya.  

Bukan tanpa data, di 2011 dan 2018, ITDP Indonesia melakukan survei VFO untuk mengobservasi volume angkutan umum di Jakarta. Ditemukan, terjadi penurunan penumpang angkutan umum hingga mencapai 30%. Parahnya lagi, di survei lain yang juga dijalankan  ITDP, ditemukan angka yang signifikan dimana 58% pengguna ojek online ternyata adalah pengguna angkutan umum. Data-data ini menegaskan, penumpang angkutan umum cenderung memilih ojek online sebagai moda transportasi andalan yang sangat berpengaruh pada berkurangnya jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta.

Menurunnya minat masyarakat akan angkutan umum dapat menjadi bencana mobilitas perkotaan. Perpindahan masyarakat akan terganggu karena volume para komuter perkotaan terpecah ke dalam kendaraan-kendaraan pribadi termasuk ojek online. Hasilnya? Unlocking city.

Lalu, bagaimana membuat masyarakat kembali menggunakan angkutan umum? Dengan memberikan layanan layaknya ojek online, point-to-point yang memberikan kemudahan bermobilitas bagi pengguna angkutan umum. Dan INTEGRASI adalah satu-satunya cara untuk mencapai sistem transfer antar moda yang mulus. Ketika angkutan umum terintegrasi secara menyeluruh, perjalanan penumpang akan menjadi lebih efisien.

Inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan program OK Otrip patut diapresiasi. Ini merupakan contoh implementasi sistem integrasi angkutan umum yang ada di perkotaan. Meski demikian, diperlukan target rute yang lebih tepat dan akurat untuk memetakan rute mana yang harusnya masuk dalam skema integrasi OK Otrip. Ditambah dengan target dari PT. Transjakarta yang berkomitmen untuk mencapai angka 1 juta penumpang di penghujung tahun 2018 ini.

Sejalan dengan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ITDP Indonesia sebagai lembaga non-profit yang terus memperjuangkan sistem angkutan perkotaan yang berkelanjutan merumuskan rekomendasi integrasi antara angkutan umum reguler dengan PT. Transjakarta yang sekaligus juga dapat menajamkan program OK Otrip demi memberikan kota Jakarta sistem transportasi yang lebih manusiawi. 

 

29 Lokasi, 123 Rute 

Untuk memperkuat rekomendasi ini, ITDP Indonesia melakukan studi “Profil dan Performa Angkutan Umum Jakarta” di 29 lokasi di seluruh wilayah Jakarta. Melalui studi ini, ITDP Indonesia berhasil mendata 123 rute angkutan umum yang dilengkapi dengan data volume frekuensi angkutan umum bus kecil, bus sedang dan juga Transjakarta.

  

Dari 29 lokasi, ada 24 lokasi dimana volume penumpang Transjakarta lebih besar dibanding volume angkutan umum reguler. Data ini kembali menegaskan, ada potensi yang sangat besar untuk pengintegrasian Transjakarta dan angkutan umum reguler yang beririsan dengan rute Transjakarta.

Lalu, dari 123 rute angkutan umum yang tertangkap oleh survei ini (bus kecil, bus sedang dan Transjakarta), ITDP Indonesia berhasil mengidentifikasi 80 rute angkutan umum reguler dimana kedelapan puluh rute ini mempunyai volume penumpang terbesar yang mencapai 100 pnp/jam/arah (penumpang per jam per arah). 80 rute dengan demand yang banyak ini sangat potensial untuk terintegrasi dengan sistem layanan Transjakarta agar memberikan impact yang lebih terasa bagi warga Jakarta.

ITDP Indonesia juga mendapatkan data rata-rata pendapatan dan setoran supir angkutan umum reguler (bus kecil & bus sedang non-transjakarta) melalui survei wawancara dengan lebih dari 180 sampel. Dari angka yang didapatkan, bisa disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan pengemudi angkutan umum di Jakarta tidak sampai memenuhi UMR DKI Jakarta. 

Penajaman Program OK OTrip

Sebagai BUMD transportasi pertama Pemprov DKI Jakarta, Transjakarta mempunyai semua resources, mulai dari standar operasional hingga standar layanan, yang diperlukan angkutan umum reguler untuk bangkit dan kembali menjadi moda transportasi  andalan warga Jakarta. Berdasarkan data-data faktual yang dihasilkan dari studi ini, ITDP berhasil merumuskan skema integrasi angkutan umum reguler dan Transjakarta yang dapat digunakan untuk mempertajam program OK Otrip.

Bagi rute angkutan umum reguler yang beririsan dengan rute koridor Transjakarta, apabila masuk dalam skema integrasi ini nantinya akan mendapatkan peningkatan layanan dan operasional yang mengikuti standarisasi Transjakarta. Standarisasi itu di antaranya adalah revitalisi armada (diganti dengan bus high-deck), integrasi sistem pembayaran (tap card) dan dapat masuk ke dalam jalur Transjakarta ketika beririsan dengan koridor Transjakarta. Sementara, rute yang tidak beririsan dengan rute koridor Transjakarta, dapat menjadi feeder Transjakarta dengan fasilitas integrasi yang sama, revitalisasi armada (diganti dengan bus sedang dan bus kecil baru) dan integrasi sistem pembayaran (tap card). Para supir rute angkutan umum yang tergabung dalam skema ini juga akan mengikuti standar operasional dan pelayanan yang diterapkan oleh Transjakarta serta memiliki kepastian pendapatan jika dibandingkan dengan supir rute angkutan umum yang belum tergabung dengan layanan Transjakarta.

Revitalisasi armada menjadi elemen penting dalam peningkatan standar angkutan umum. Dari data yang didapat ini, ITDP Indonesia memperkirakan kebutuhan armada tambahan sebesar 637 minibus (pengganti angkot), 999 bus sedang dan 388 bus single. Ketimpangan armada bisa menjadi salah satu faktor penumpang enggan naik angkutan umum. Sama halnya dengan fasilitas pejalan kaki dari dan menuju stasiun atau halte angkutan umum terdekat yang harus selaras kualitasnya untuk memberikan pengalaman komuting yang lebih manusiawi.

 

Integrasi atau Mati

Kunci kebangkitan angkutan umum sebagai moda transportasi perkotaan andalan masyarakat adalah dengan peningkatan layanan yang membuat mobilitas masyarakat perkotaan semakin aman dan nyaman. Integrasi adalah satu-satunya cara untuk mencapai standar pelayanan dan operasional maksimal untuk memberikan dampak yang besar dan menyeluruh.

Kehadiran MRT dan LRT nantinya juga harus menjadi tonggak majunya sistem transportasi kota Jakarta, terutama transportasi berbasis jalan yang secara fleksibel dapat menyentuh lokasi-lokasi yang tidak dapat dicapai transportasi berbasis rel. Tanpa integrasi menyeluruh, jangan harap masyarakat akan menjatuhkan pilihan ke transportasi umum sebagai moda transportasi perkotaan, semurah apapun harga yang ditawarkan. Ketepatan waktu dan kemudahan dalam berpindah (mobilitas) akan selalu menjadi alasan utama pemilihan moda transportasi untuk menunjang mobilitas warga kota.  Tanpa integrasi, jangan harap memiliki kota dengan sistem transportasi yang manusiawi dan efisien bagi penduduknya.

 

Rekomendasi ITDP Indonesia: 

  1. 80 rute aktif angkutan umum yang memiliki demand penumpang yang besar untuk diintegrasikan dengan Transjakarta
  2. Skema integrasi angkutan umum reguler dan Transjakarta yang tepat guna untuk memberikan pengalaman komuting yang lebih manusiawi bagi warga Jakarta.

 

Lebih lanjut mengenai hasil Survei Profil dan Performa Angkutan Umum 2018 di Jakarta, unduh presentasi hasil survei di bawah!

Hasil Survei Profil dan Performa Angkutan Umum Jakarta 2018

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP