March 08, 2026
Bus Listrik Melaju, Saatnya Perempuan Maju
Oleh Ajani Raushanfikra, Urban Planning & Inclusivity Associate ITDP Indonesia

Ilustrasi oleh Puty Puar
Momentum elektrifikasi tidak hanya mengubah teknologi—dari bahan bakar diesel ke listrik—tetapi juga berpeluang menghadirkan ekosistem transportasi yang lebih setara gender, dengan memastikan perempuan memiliki akses yang sama terhadap peluang pekerjaan di sektor mobilitas listrik.
Sektor mobilitas listrik di Indonesia saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan dan menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur serta kebutuhan untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan baru. Elektrifikasi armada bus perkotaan, misalnya, tidak hanya memerlukan penggantian dan penambahan armada, tetapi juga penyesuaian layanan. Hal ini secara langsung menciptakan kebutuhan tenaga kerja operasional dan teknis, sekaligus mendorong pengembangan keterampilan baru dalam pengoperasian dan pemeliharaan kendaraan listrik.
Di sisi lain, proses transisi ini juga dapat menjadi momentum untuk membuka lebih banyak peluang bagi perempuan di sektor transportasi. Dengan memastikan perempuan memiliki akses yang setara terhadap peluang pekerjaan, serta mempertimbangkan kebutuhan dan perspektif mereka dalam pengembangan dan penerapan teknologi mobilitas listrik, ekosistem transportasi yang lebih inklusif dapat terwujud.
Transjakarta Academy: Membuka Peluang Perempuan di Ekosistem Mobilitas Listrik
Proses elektrifikasi armada bus di Transjakarta sesuai Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 1053/2022 yang menargetkan 100% elektrifikasi pada 2030 dapat menjadi pintu masuk bagi tenaga kerja yang lebih adil dan inklusif di sektor transportasi publik. Menurut data Transjakarta tahun 2024, sekitar 60% penggunanya adalah perempuan1. Meski menjadi pengguna utama, kelompok ini jugalah yang lebih rentan terhadap isu keamanan dalam transportasi publik. Karena itu, keterwakilan perempuan dalam tenaga kerja layanan transportasi menjadi penting. Namun, hingga awal 2025, pramudi perempuan masih hanya sekitar 2% dari total pramudi Transjakarta.
Kehadiran perempuan dalam tenaga kerja operasional dapat membantu meningkatkan persepsi keamanan layanan2 dan sensitivitas terhadap kebutuhan penumpang rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas3.
Berangkat dari catatan di atas, transisi ini bukan hanya berarti transformasi teknologi untuk agenda dekarbonisasi, namun juga peluang bagi transformasi sosial yang lebih luas. Selama ini, pengalaman atau keterampilan teknis kerap dianggap sebagai prasyarat untuk masuk ke sektor operasional transportasi publik, sehingga partisipasi perempuan menjadi lebih terbatas. Namun, karena teknologi kendaraan listrik masih relatif baru, para pramudi dan tenaga kerja perlu mempelajarinya kembali dari awal. Kondisi ini membuka ruang bagi perempuan, termasuk mereka yang sebelumnya belum memiliki pengalaman teknis, untuk terlibat di sektor tersebut.
Pada tahun 2025, ITDP dan Transjakarta, didukung UNEP dan BMZ Germany, melaksanakan Transjakarta Academy (TJ Academy) batch kedua. Kegiatan ini mengacu pada rekomendasi ITDP dan UNEP pada 2024 serta rencana pengembangan SDM Transjakarta, yang menyoroti rendahnya partisipasi perempuan dalam sektor mobilitas listrik, tercermin dari sedikitnya pengemudi perempuan, kurangnya skema perekrutan yang ditargetkan, serta minimnya pelamar perempuan untuk posisi teknis.
Transjakarta Academy batch kedua merekrut peserta 100% perempuan dan dirancang sebagai platform pengembangan kapasitas bagi perempuan untuk berkontribusi sebagai pramudi transportasi publik. Transjakarta Academy Batch 2 yang diberi tajuk ‘Women Empowerment Program’ dilaksanakan melalui proses rekrutmen terbuka yang secara khusus menargetkan perempuan. Program ini juga membuka kesempatan bagi peserta yang belum memiliki pengalaman mengemudikan bus, di mana pendaftar dengan SIM A dapat mengikuti pelatihan untuk meningkatkan lisensinya. Total 15 perempuan terpilih setelah melalui seleksi untuk mengikuti 1 bulan pelatihan dari September hingga Oktober 2025.
Para peserta, selain sudah mempunyai pengalaman mengemudikan kendaraan kecil maupun berat, juga berangkat dari beragam latar belakang profesi dan pendidikan, mulai dari staff administrasi, guru, lulusan SMA, S1 hingga S2.
Pelatihan dilaksanakan secara terstruktur dan mencakup pengenalan teknologi kendaraan listrik, standar keselamatan operasional, serta penguatan kompetensi teknis dan profesional. Selain keterampilan teknis, pelatihan ini juga memasukkan modul sensitivitas gender, respons terhadap kekerasan berbasis gender, serta penanganan penumpang dari kelompok rentan, sehingga pramudi dibekali kemampuan untuk memberikan layanan yang lebih aman, responsif, dan inklusif bagi seluruh pengguna transportasi publik.
Untuk menyelesaikan program pelatihan, para peserta mengikuti ujian teori dan praktik. Ujian teori, yang dikenal sebagai block test, dilakukan di kelas menggunakan Google Forms. Soal-soalnya disusun dari rangkuman pre-test dan post-test yang diberikan selama sesi pembelajaran, dan dilaksanakan dalam satu hari dengan mencakup seluruh materi pelatihan.
Sementara itu, ujian praktik terdiri dari dua tahap: uji mengemudi di rute latihan dan uji mengemudi akhir di rute operasional Transjakarta. Penilaian utama dilakukan pada tahap akhir, ketika peserta mengemudikan bus di rute Transjakarta. Instruktur menilai kemampuan mengemudi peserta serta kepatuhan terhadap Standar Pelayanan Minimum (SPM), seperti ketepatan waktu membuka dan menutup pintu bus. Peserta yang belum memenuhi nilai kelulusan diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian ulang.
Melalui pendekatan ini, Transjakarta Academy diharapkan tidak hanya bertujuan menambah jumlah pramudi dan teknisi perempuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri serta kesiapan kerja perempuan untuk berkontribusi dalam sektor transportasi berkelanjutan.
Setelah mengikuti serangkaian pelatihan dan ujian seleksi, sebanyak 13 peserta berhasil lulus dan resmi diwisuda sebagai pramudi perempuan Transjakarta. Wisuda kelulusan ini dilaksanakan pada 10 November 2025 lalu di Aula GBK PT Transjakarta yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Peran Perempuan di Mobilitas Listrik Butuh Lebih dari Sekadar Rekrutmen
Meski berhasil mendorong akses rekrutmen, hasil evaluasi program Transjakarta Academy Batch 2 menunjukkan peningkatan partisipasi perempuan ternyata tidak cukup hanya melalui akses rekrutmen dan pelatihan yang inklusif. Berdasarkan temuan lapangan dan wawancara dengan pramudi perempuan, terdapat banyak tantangan struktural yang memengaruhi keberlanjutan partisipasi mereka, seperti pengaturan shift kerja yang dimulai sejak dini hari, keterbatasan waktu istirahat, serta dukungan fasilitas yang belum memadai di lingkungan operasional.
Meski isu kondisi kerja ini juga dirasakan lintas gender, tantangan tersebut lebih berdampak pada perempuan karena mereka sering kali harus menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab domestik, seperti mengurus anak dan anggota keluarga di rumah, termasuk orang tua.
Belajar dari operator bus listrik La Rolita di Bogotá, peningkatan partisipasi perempuan dilakukan bersamaan dengan perancangan sistem kerja yang responsif gender sejak awal. Dipimpin Carolina Martínez selaku CEO, proses rekrutmen di La Rolita tidak mensyaratkan pengalaman mengemudi kendaraan besar. Sebaliknya, La Rolita membuka kesempatan bagi calon peserta yang belum memiliki pengalaman tersebut dengan memberikan dukungan pelatihan serta memfasilitasi proses peningkatan atau konversi surat izin mengemudi. Pendekatan ini juga telah diterapkan dalam program Transjakarta Academy, di mana peserta dapat mendaftar menggunakan SIM A dan kemudian difasilitasi untuk meningkatkan kualifikasinya menjadi SIM B selama program pelatihan berlangsung. Dengan cara ini, lebih banyak calon pekerja—termasuk perempuan—memiliki kesempatan untuk masuk dan berkembang di sektor transportasi publik.
Tidak hanya melalui perekrutan, yang membuat La Rolita berhasil menjadikan 60% pramudinya perempuan dan menempatkan perempuan di jajaran pimpinannya adalah pengakuan bahwa dalam tatanan masyarakat saat ini, perempuan menanggung peran dan tanggung jawab yang berbeda dari laki-laki. Padahal, skema kerja pramudi yang ada selama ini—dengan shift panjang dan jam kerja dini hari—secara implisit lebih mudah dipenuhi oleh laki-laki. Pengakuan ini terwujud dalam lingkungan dan sistem kerja yang tersedia bagi pekerja perempuan di La Rolita. Mereka menjalani 8 jam kerja dalam sehari, memiliki akses ke fasilitas seperti ruang laktasi, ruang istirahat yang nyaman4, dan layanan pengasuhan anak pada jam kerja. Selain itu, sebagai komitmen menutup kesenjangan upah berbasis gender, La Rolita menggaji pengemudinya di atas UMR, lengkap dengan jaminan sosial dan dana pensiun.
Laporan media internasional menunjukkan bahwa La Rolita mencatat tingkat cedera akibat kecelakaan yang lebih rendah dibanding operator bus lain di kota tersebut, sekaligus meningkatkan rasa aman penumpang perempuan.5
Lingkungan Kerja yang Inklusif, Transportasi yang Lebih Aman
Pengalaman perekrutan pramudi perempuan melalui Transjakarta Academy serta praktik La Rolita di Bogotá menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi perempuan di sektor transportasi membutuhkan strategi yang secara aktif menargetkan perempuan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah membuka kesempatan bagi perempuan yang belum memiliki pengalaman mengemudi bus, dengan menyediakan pelatihan serta dukungan peningkatan lisensi mengemudi. Upaya ini juga perlu disertai peningkatan pemahaman tentang kesetaraan gender di lingkungan kerja.
Namun, rekrutmen saja tidak cukup. Perempuan yang sudah bergabung juga membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung, seperti kebijakan pengupahan yang setara, akses fasilitas pengasuhan anak, serta pengaturan kerja yang mempertimbangkan tanggung jawab pengasuhan. Inisiatif seperti Transjakarta Academy menjadi langkah awal penting untuk membuka peluang bagi perempuan di sektor transportasi berkelanjutan.
Pada akhirnya, kondisi kerja yang lebih inklusif tidak hanya membuka peluang bagi perempuan, tetapi juga meningkatkan standar kerja dan keselamatan transportasi publik secara keseluruhan.
Referensi:
- (2023, Maret 17). KemenPPPA Dukung Gerakan Stand Up Lawan Pelecehan Seksual di Transportasi Umum. https://www.kemenpppa.go.id/index.php/siaran-pers/kemenpppa-dukung-gerakan-stand-up-lawan-pelecehan-seksual-di-transportasi-umum
- Open Inclusion. (2024, February). Enhancing transport safety for disabled women. https://assets.publishing.service.gov.uk/media/66e04fe24dd910b7e335ce00/enhancing-transport-safety-disabled-women.pdf
- Orozco, J. (2023, May 8). Colombia’s Women-Led Electric Bus Fleet Is Reshaping Bogotá’s Public Transit. https://www.bloomberg.com/news/features/2023-05-08/la-rolita-electric-bus-company-prioritizes-gender-equity
- Yeung, P. (2024, March 29). The Women Bus Drivers Overcoming Stereotypes in Bogotá.https://reasonstobecheerful.world/women-bus-drivers-overcoming-stereotypes-in-bogota
- Rachmita, F. (2023, August 4). Women’s empowerment in public transportation: Lessons learned from Bogotá’s La Rolita. https://www.thejakartapost.com/culture/2023/08/03/womens-empowerment-in-public-transportation-lessons-learned-from-bogots-la-rolita.html
