April 15, 2020

Covid-19 Transport Story: Kurir Sepeda di Tengah Pandemi

Imbauan untuk physical distancing dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta menjadi kendala bagi para individu yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari atau mengirimkan dokumen dalam keadaan kerja dari rumah. Dalam kondisi yang tidak biasa ini, kurir sepeda menjadi penyelamat bagi banyak orang yang membutuhkan layanan pengantaran barang yang cepat dan terjangkau.

Westbike Messenger Service selama masa pandemi Covid-19 (foto: dok. WMS)

Menurut Hendi, Pendiri dari Westbike Messenger Service (WMS) yang beroperasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, Lampung, dan Medan, jumlah order turut melonjak dan bisnis tetap berjalan seperti biasa bagi mereka. WMS sendiri telah menerapkan beberapa protokol untuk mengurangi potensi penularan COVID-19 ketika menjalankan kegiatan, di mana setiap kurir diwajibkan untuk menggunakan masker dan sarung tangan saat mengantarkan barang. Para kurir juga dilengkapi dengan hand sanitizer dan disinfektan untuk menjaga kebersihan pribadi. Interaksi antar kurir dan pelanggan pun dibatasi dengan mengganti proses tanda tangan tanda terima dengan bukti foto. Paket yang akan diantarkan pun diletakan di kursi atau dropbox untuk meminimalisir kontak.

Hendi setuju bahwa keadaan yang tidak biasa ini walau tidak mengganggu berjalannya proses koordinasi dan pengiriman, telah mendorong WMS untuk mencoba menjadi lebih kreatif, terutama dalam digital marketing.

Hal ini juga diamini oleh Septian, kurir WMS Jakarta. “Bagi para pelanggan, kurir sepeda sering dianggap sebagai sesuatu yang unik. Sehingga biasanya kita sering diajak duduk dan ngobrol. Sekarang jadi sedikit dibatasi, karena tidak ada kontak langsung.” Di tengah kekhawatiran akan penyebaran virus, para kurir sering menemukan para klien yang menyediakan dan memberikan panganan kecil hingga hand sanitizer. Salah satu kurir di timnya pun mengalami hal yang unik di mana sang kurir diduga sebagai maling oleh satpam dan warga sekitar. “Kebetulan beserta dengan masker dan sarung tangan yang wajib dipakai, dia juga berpakaian serba hitam.” ujar Septian.

Physical distancing selama beraktifitas mengantar barang menjadi salah satu protokol yang diwajibkan Westbike Messenger Service kepada para kurir-kurirnya. (foto: dok. WMS)

Sebagai kurir, Septian mengakui banyak perubahan yang terjadi selama pandemi ini. Meski polusi terasa berkurang, keberadaan kendaraan bermotor yang tidak mengikuti aturan semakin bertambah dengan lenggangnya jalanan Jakarta. “Bersepeda jadi lebih enak lagi, meski kemarin di daerah Mampang saya sempat bertemu dengan pengguna motor yang mengebut saat belok di perempatan.”

Septian, salah satu kurir sepeda Westbike Messenger Service. Seperti kebanyakan kurir sepeda lainnya, Septian juga adalah penggiat sepeda. (foto: dok. WMS)

Keseharian Septian dan para kurir sendiri menjadi banyak  berubah. Para kurir yang juga para penggiat sepeda seringkali gowes dan sarapan bersama sebelum bekerja, namun kegiatan tersebut beserta ‘tos sepeda’ telah mereka hindari untuk sementara ini. Ia juga menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan ketimbang hari-hari biasanya. Jumlah pesanan yang meningkat membuat para kurir yang memiliki jam kerja mulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore seringkali masih harus melakukan pengiriman hingga jam 9 malam. Pergeseran area pengantaran dari daerah perkantoran di daerah perumahan juga mengubah jenis barang-barang yang mereka antar. Same-day service yang mereka tawarkan tidak hanya mengantar dokumen saja, namun juga obat-obatan dan makanan beku.

Meningkatnya kesadaran orang-orang bahwa kurir sepeda adalah alternatif yang murah dan berkelanjutan diharap dapat menjadi langkah awal dari pergeseran ke ‘keadaan normal’ yang baru. Silakan berkunjung ke laman ini apabila anda di rumah ingin menggunakan layanan dari Westbike Messenger Service!

Kembali ke halaman khusus Covid-19 & Mobilitas Perkotaan

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Skip to content
Send this to a friend