April 05, 2020

Pasca Pandemi, Kota-kota di Tiongkok Kembali Membuka Layanan Transportasi Publik

Tiongkok melaporkan pencapaian; tidak ada infeksi baru dari COVID-19 untuk pertama kalinya dalam selang waktu 3 bulan. Telah melewati periode paling serius dalam pandemik ini, kota-kota di Tiongkok mulai dibuka kembali untuk beraktifitas, secara bertahap. Dan secara bertahap pula, kita bisa melihat bagaimana dampaknya bagi jaringan transportasi Tiongkok yang sangat masif. Pun juga menjadi pelajaran bagi jaringan transportasi perkotaan secara global.


Kebijakan lockdown di Tiongkok yang dimulai pada bulan Januari, secara mutlak melarang pergerakan warga di kawasan padat penduduk, termasuk aktifitas dengan menggunakan transportasi publik. Kini, Tiongkok telah kembali membuka layanan transportasi publik, di mana terjadi pola mobilitas yang berubah. Dampaknya tidak mengejutkan namun melihat pola perjalanan dan peralihan moda warga selama pandemik menunjukkan, jalan kaki dan bersepeda menjadi bentuk moda transportasi terbaik untuk lingkungan dan mobilitas kota.

Grafik menunjukkan mode share di kota-kota di Tiongkok berubah, sebelum dan selama pandemik.

Jumlah Warga yang Bersepeda Meningkat Pesat

Bersepeda, sebelum pandemik sudah menjadi moda transportasi populer di kota-kota di Tiongkok. ITDP China melakukan survei komuter di Guangzhou dan menemukan banyak dari para komuter yang mengganti moda transportasi mereka dari transportasi publik ke sepeda. Di Beijing sendiri, sistem bike sharing mengalami lonjakan pengguna hingga 150%. Sebagai tambahan, operator bike sharing juga melihat adanya peningkatan perjalanan menggunakan bike sharing hingga lebih dari 3km, di mana ini jarang terjadi sebelum masa pandemik, karena perjalanan di atas 3km biasanya diakomodir oleh mobil dan transportasi publik. Di luar ketakutan akan persebaran virus apabila menggunakan transportasi publik yang padat, berkurangnya lalu lintas mobil selama masa karantina membuat bersepeda lebih menarik dan dirasa lebih aman.

Uber, Didi, dan Perusahaan Ridesharing Lainnya Mengalami Penurunan Permintaan 

Taksi dan ridesharing mendapatkan dampak yang cukup keras dengan preferensi warga yang memilih sepeda sebagai moda transportasi yang lebih aman dan murah. Jaringan transportasi publik yang dimiliki pemerintah menetapkan peraturan spesifik terkait kebersihan dan sanitasi bagi armada dan juga pekerjanya. Kapasitas bus di beberapa area ditingkatkan untuk memberikan opsi bagi penumpang agar kepadatan dapat terurai. Hal ini tidak dapat diterapkan oleh ridesharing dan taksi, di mana setiap pengemudi tidak berada di bawah regulasi yang sama yang dikeluarkan oleh pemerintah kota. Ketika layanan transportasi publik kembali dibuka paska karantina, warga lebih percaya pada operator transportasi publik yang menjalankan protokol sanitasi yang ketat serta lebih banyak ruang untuk melakukan social distancing. Model bisnis perusahaan ridesharing tidak dapat melakukan hal yang sama seperti ini.

Metro ke Bus

Temuan awal menunjukkan, berkurangnya penumpang transportasi publik terjadi dengan alasan yang jelas, namun ternyata tidak seragam dalam prosesnya. Mode share metro atau kereta turun dari sebelumnya 26 persen dari perjalanan di dalam kota menjadi 14 persen. Untuk bus, mode share dari sebelum pandemik berada di angka 17 persen menjadi 10 persen. Banyak orang dilaporkan beralih ke bus dari metro karena mereka tidak suka dengan suasana bawah tanah yang membuat mereka seakan-akan terperangkap di ruang terbatas, dan anggapan bahwa bus mempunyai opsi lebih banyak ruang untuk melakukan social distancing. Untungnya, sistem transportasi publik yang terintegrasi sepenuhnya antara bus, metro dan bike sharing membuat warga mempunyai opsi yang banyak dan beragam dalam memilih moda transportasi untuk mobilitas mereka di masa krisis ini.

Di Shenzen, penumpang metro perlahan naik ketika kota kembali dibuka, meski angkanya masih di bawah operasional regular sebelum Covid-19. Ini disebabkan oleh aktivitas di kota yang kembali dibuka secara bertahap untuk memberikan ruang lebih agar tidak terjadi kerumunan.

Di minggu ke-4 setelah layanan kembali dibuka, mode share Metro Shenzhen berada di angka 34% dibandingkan dengan waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Peluang 

Krisis ini memang tidak dapat diprediksi, namun kita tahu bahwa krisis ini akan mengubah pola ekonomi dalam tahun-tahun ke depan atau bahkan hingga beberapa dekade ke depan. Meski masih terlalu cepat untuk merayakan kesuksesan, namun ada beberapa tren yang patut untuk diamati. Saat ini, kualitas udara di kota-kota di Tiongkok semakin membaik dibanding beberapa tahun ke belakang. Secara global, kualitas udara juga meningkat semenjak pandemik. Ada kemungkinan, ketika pandemik berakhir, kualitas udara akan kembali seperti semula, tetapi untuk sekarang, ada banyak kesempatan yang langka untuk membayangkan cara hidup lain tanpa kehadiran kendaraan bermotor pribadi di kota. Sebagai contoh, Bogotá membuka jalur sepeda temporer untuk mengatasi pembatasan penggunaan transportasi publik dan Mexico City juga mengimplementasikan jalur sepeda tambahan selama masa pandemik ini. Terjadi peningkatan besar dalam bersepeda di New York City, sebagai hasil dari berkurangnya mobil di jalanan perkotaan.

Situasi ini berkembang secara cepat dan berubah setiap hari. Satu yang pasti, cara paling tepat untuk membuat jaringan trasnportasi perkotaan yang tangguh ketika krisis terjadi adalah menyediakan beragam opsi moda transportasi berkualitas tinggi untuk semua orang dengan beragam kemampuan. Baik itu pandemi, banjir, krisis kualitas udara, jaringan transportasi yang beragam dan berkualitas tinggi adalah pertahanan terbaik kota. 

English Version

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Send this to a friend