June 15, 2026
ITDP Indonesia di BIG Strategic Forum 2026: Sepeda Motor Listrik Jadi Kunci Percepatan Logistik Hijau
Kehadiran Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) No. 8 Tahun 2025 dinilai dapat mempercepat elektrifikasi armada logistik perkotaan. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam BIG Strategic Forum 2026 yang digelar pada 8 Juni 2026 di Jakarta Pusat, menghadirkan perwakilan pemerintah, industri pembiayaan, pelaku logistik, dan ITDP Indonesia.
Dalam forum tersebut, Southeast Asia Director ITDP Indonesia Gonggomtua E. Sitanggang menjelaskan bahwa sektor logistik memiliki peluang besar mendukung target elektrifikasi yang diamanatkan dalam Permenkomdigi No. 8 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2023. Dorongan ini didukung pertumbuhan pesat e-commerce Indonesia, dengan nilai transaksi meningkat dari Rp266,3 triliun pada 2020 menjadi Rp487,01 triliun pada 2024.
Namun, pertumbuhan aktivitas logistik juga berdampak pada peningkatan emisi. Sektor transportasi menyumbang sekitar 25% emisi energi nasional atau setara 202 juta ton CO2. Karena itu, elektrifikasi kendaraan logistik dipandang sebagai instrumen penting untuk mendukung agenda logistik hijau sebagaimana diatur dalam Pasal 107 Permenkomdigi No. 8 Tahun 2025.
Senior Transport Associate ITDP Indonesia Kemal Yahya Fardianto memaparkan hasil riset ITDP yang didukung oleh ViriyaENB berjudul Elektrifikasi Kendaraan Logistik Perkotaan untuk Percepatan Adopsi Kendaraan Listrik. Riset ini menunjukkan bahwa sepeda motor menjadi segmen paling siap untuk dielektrifikasi, terutama pada layanan third party logistics (3PL) dan pengiriman instan. Secara teknis, sepeda motor listrik dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan operasional kurir perkotaan, dengan rata-rata jarak tempuh hingga 82 kilometer dalam kondisi baterai penuh. Meski demikian, layanan pengiriman instan masih membutuhkan dukungan infrastruktur penggantian baterai yang lebih memadai.
Dari sisi ekonomi, total biaya kepemilikan sepeda motor listrik dalam lima tahun tercatat rata-rata 27% lebih rendah dibanding motor bensin. Penghematan dapat mencapai Rp150–Rp395 per kilometer, sekaligus menurunkan emisi karbon dan konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Meski memiliki keuntungan operasional, adopsi kendaraan listrik belum berjalan masif. Mayoritas kurir masih menggunakan motor bensin yang telah lunas sehingga menghadapi beban biaya tambahan untuk beralih ke kendaraan listrik. ITDP Indonesia menilai diperlukan dukungan berupa subsidi, pembiayaan murah, dan program tukar tambah kendaraan agar transisi dapat berjalan lebih cepat.
Plt. Direktur Utama PT Mandiri Utama Finance (MUF) Dapot Parasian Sukoco Sinaga mengatakan permintaan pembiayaan motor listrik belum menunjukkan peningkatan signifikan. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya harga kendaraan, tetapi manfaat ekonomi yang belum dirasakan langsung oleh masyarakat serta insentif motor listrik yang masih kalah menarik dibanding mobil listrik.
Dari sisi industri, percepatan logistik hijau dinilai membutuhkan ekosistem yang lebih matang, mulai dari infrastruktur pendukung hingga kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lain agar implementasinya berjalan efektif dan berkelanjutan.
Sesi ini ditutup dengan penyerahan hasil studi secara simbolik dari ITDP Indonesia ke Direktur Pengembangan Ekosistem Digital di Kementerian Komunikasi dan Digital.
Baca laporan akhir studi ITDP mengenai elektrifikasi kendaraan logistik perkotaan di sini.