July 29, 2026

ITDP Indonesia dan Transjakarta Mendiskusikan Mobilitas Listrik dalam Mendorong Keadilan Gender di Perkotaan​

Elektrifikasi mobilitas di perkotaan tidak hanya mengurangi emisi, tapi juga dapat mendorong kesetaraan gender dan membuka peluang pekerjaan baru bagi perempuan. Inilah yang menjadi tajuk utama dalam diskusi “Memajukan Transisi Mobilitas Perkotaan yang Responsif Gender di Kota Metropolitan: Peran Perempuan dalam Mendorong Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan”di Jabodetabek Study Forum 2026 pada 23 Juli 2026.

Diskusi yang berlangsung selama 75 menit ini menghadirkan Deliani Siregar selaku Wakil Direktur ITDP Indonesia dan Mayangsari Dian Irwantari selaku Direktur Keuangan, SDM, dan Umum Transjakarta sebagai pembicara. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan Reza Hertyanto, Perencana Ahli Madya Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Associate Professor School of Architecture, Design and Planning, University of Queensland Dorina Pojani hadir sebagai penanggap. 

Sesi diskusi dibuka dengan presentasi dari ITDP Indonesia yang memberikan konteks mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dalam transformasi mobilitas perkotaan. Saat ini, sekitar 60% pengguna Transjakarta adalah perempuan. Namun, hingga awal 2025, hanya 2% pramudi Transjakarta merupakan perempuan. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya sistem transportasi yang tidak hanya melayani kebutuhan perempuan sebagai pengguna, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi mereka sebagai bagian dari penyelenggara layanan.

Dalam konteks ini, elektrifikasi bus membuka peluang yang lebih besar bagi perempuan untuk berpartisipasi sebagai pramudi maupun teknisi bus listrik. Sebagai teknologi yang relatif baru, ekosistem bus listrik masih terus berkembang sehingga banyak keterampilan perlu dipelajari dari awal. Kondisi ini turut menciptakan berbagai peran baru di sepanjang rantai nilai elektrifikasi transportasi publik, mulai dari manufaktur bus dan baterai, pembangunan serta pengelolaan infrastruktur pengisian daya di depo, analisis data operasional, pemeliharaan armada, perencanaan transportasi, hingga pengoperasian bus. Munculnya beragam jenis pekerjaan tersebut menjadi kesempatan nyata untuk memperluas partisipasi perempuan dalam sektor transportasi sekaligus mendorong terwujudnya sistem mobilitas perkotaan yang lebih inklusif.

La Rolita, Bogota adalah contoh utama dalam melibatkan perempuan di operasional bus listrik, baik sebagai pramudi maupun teknisi. Mereka dilatih dalam program yang berjalan selama 2-4 bulan yang meliputi pengetahuan umum, keterampilan teknis dan non-teknis, serta kesadaran gender. Program ini berjalan dengan sukses: di tahun 2024, 60% pramudi La Rolita adalah perempuan.

Deliani menekankan membangun tenaga kerja yang inklusif perlu menerapkan beberapa hal, yaitu memperluas akses rekrutmen, merancang pelatihan responsif gender, melembagakan kemitraan, memperkuat transisi ke dunia kerja, dan mendorong lingkungan kerja yang responsif gender.

Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan oleh Transjakarta mengenai program, kebijakan, dan fasilitas yang menyasar perempuan, baik di dalam PT Transjakarta maupun pelanggan Transjakarta. Komitmen kesetaraan gender strategis Transjakarta meliputi payung attraction and recruitment (implementasi sertifikasi The Gender-Inclusive Recruitment Certification (GIRC) bagi 50% panelis rekrutmen dan program beasiswa STEM bagi perempuan calon Teknisi Bus Listrik), kebijakan SDM dan fasilitas (integrasi data gender dalam survei kepuasan, penyediaan daycare, dan prosedur pengaduan responsif gender), serta target keterwakilan strategis (mencapai 30% keterwakilan perempuan di level manajerial dan 5% kuota bagi teknisi serta pramudi perempuan).

Dari segi program, Transjakarta telah mengadakan dua TJ Academy dengan dukungan BMZ Germany, UNEP dan ITDP. Program ini melatih pramudi perempuan dan meluluskan 23 peserta pada Februari 2025 dan 13 peserta di November 2025. Kesuksesan La Rolita menjadi pembelajaran bagi Transjakarta untuk melatih calon pramudi perempuan. Lewat dukungan UNEP dan BMZ Germany, Transjakarta berkolaborasi dengan ITDP Indonesia mengadakan program Transjakarta Academy angkatan 2 yang sepenuhnya melatih pramudi perempuan.

Sesi setelahnya adalah diskusi dari para penanggap. Hadir di siang itu adalah Reza Hartantyo, Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan, Ratih Rachmawati, Perencana Ahli Madya Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Pekerja dan TPPO, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, dan Dorina Pojani, Profesor Asosiasi Perencanaan Perkotaan di University of Queensland, Australia. Para penanggap mengapresiasi program dan kebijakan inklusif yang telah dijalankan oleh Transjakarta, tapi juga menyoroti keamanan pengguna perempuan, utamanya perihal pelecehan dan kekerasan seksual.

Semua peserta pada siang itu berharap Transjakarta akan semakin melibatkan perempuan dalam mobilitas berkelanjutan.

ITDP Indonesia meyakini bahwa transisi menuju transportasi publik berbasis listrik harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan inklusivitas sosial. Dengan mendorong partisipasi perempuan yang lebih besar di seluruh ekosistem transportasi publik, mulai dari perencanaan, operasional, peran teknis, hingga kepemimpinan, transisi ini dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas sekaligus mewujudkan sistem mobilitas yang lebih aman, setara, dan inklusif bagi semua.

 

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Send this to a friend