April 23, 2026
Dialog Multistakeholder Ungkap Tantangan dan Potensi Elektrifikasi Layanan Logistik di Wilayah Perkotaan
Di tengah situasi ketidakpastian energi seperti sekarang, kebutuhan untuk elektrifikasi kendaraan semakin mendesak untuk dibahas. Sektor logistik perkotaan yang 60% didominasi sepeda motor untuk pengiriman last-mile memiliki posisi strategis sebagai penggerak awal adopsi kendaraan roda dua listrik di Indonesia. Untuk mendorong agenda ini, ITDP Indonesia membuka focus group discussion (FGD) bertajuk Akselerasi Transisi Kendaraan Listrik pada Layanan Pengiriman Barang Perkotaan pada Senin, 21 April 2026, di Jakarta.
Dialog ini mempertemukan pelaku industri logistik dan layanan on-demand seperti Grab, Gojek, JNE, J&T, SiCepat, Asperindo dan ALDEI, bersama produsen sepeda motor listrik dan asosiasiindustri terkait untuk mendiskusikan tantangan dan potensi dalam mendorong percepatan adopsikendaraan listrik di sektor logistik perkotaan. Hasil diskusinya akan menjadi bagian dari studi ITDP Indonesia untuk studi Elektrifikasi Kendaraan Logistik Perkotaan yang didukung oleh ViriyaENB.
Diskusi diawali dengan sambutan dari Gonggomtua Sitanggang, Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia. “Percepatan elektrifikasi logistik perkotaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Melalui forum ini, kami ingin mendorong dialog yang lebih terarah agar solusi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga dapat diimplementasikan,” ujarnya.
Setelahnya, ITDP Indonesia memaparkan temuan awal dan hasil survei bertajuk Potensi Penggunaan Sepeda Motor Listrik untuk Pengiriman Barang di Wilayah Perkotaan oleh Mizandaru Wicaksono, Urban Mobility Manager ITDP Indonesia. Temuan ITDP Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan sepeda motor listrik dapat menghemat biaya kepemilikan (TCO) sampai Rp395 per kilometer dan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 25%, bahkan dengan memperhitungkan bauran listrik yang masih berbasis batu bara.
Hasil diskusi mengungkapkan dua faktor yang berpotensi menghambat adopsi kendaraan listrik roda dua: pertama, kendala teknis dan kedua, kendala struktural. Secara teknis, para peserta mengungkapkan sepeda motor listrik sebetulnya sudah siap untuk sebagian besar kebutuhan operasional kurir. Namun tantangan terbesarnya sesungguhnya ada di ekosistem pendukungnya seperti peningkatan infrastruktur pengisian daya untuk mendukung operasional kurir, terutama kurir layanan on-demand yang menempuh lebih dari 100 kilometer per hari.
Peserta dari industri logistik juga menyoroti pentingnya standarisasi teknologi baterai, baik secara fisik maupun perangkat lunak, agar interoperabilitas antar-merek dapat terwujud dan mengurangi risiko investasi untuk transisi ke sepeda motor listrik. Industri sepeda motor listrik menyatakan siap untuk mengupayakan produk-produk sesuai kebutuhan kegiatan logistik.
Isu pembiayaan menjadi benang merah yang paling kuat sepanjang diskusi. Mitra kurir belum mampu menanggung biaya transisi ke kendaraan listrik secara mandiri. Tanpa skema dukungan yang terstruktur, transisi ini berpotensi menekan pendapatan harian mitra hingga sekitar 21% akibat cicilan sepeda motor. Selain itu, ada kekhawatiran akan harga nilai jual kembali yang rendah dibanding kendaraan roda dua konvensional.
Untuk mengatasi hal ini, peserta mengusulkan dua solusi berupa subsidi pembelian sepeda motor listrik yang ditargetkan ke pekerja logistik dan mekanisme buy-back guarantee yang ditanggung oleh pemerintah. Solusi ini dianggap memberikan dampak yang lebih besar dan lebih efektif dalam mempercepat transisi ke kendaraan listrik.
Sementara dari sisi struktural, tantangan terbesar datang dari inkonsistensi regulasi dan ketidakpastian mengenai siapa yang mengoordinasikan kebijakan pecepatan transisi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di tingkat pemerintah. Para partisipan menekankan ini sebagai catatan serius yang perlu segera ditangani.
Dari diskusi ini, ITDP Indonesia mengidentifikasi beberapa arah kebijakan prioritas: kerja sama antar industri logistik dan manufaktur sepeda motor listrik untuk meningkatkan uji sepeda motor listrik pada segmen pengiriman last mile, skema pembiayaan yang disesuaikan dengan pola operasional dan kemampuan finansial mitra kurir, serta kehadiran pemerintah yang memastikan standarisasi, kepastian regulasi, dan keseimbangan antar pemain industri.
FGD ini merupakan bagian dari studi ITDP Indonesia mengenai elektrifikasi kendaraan logistik perkotaan yang didukung ViriyaENB yang akan diluncurkan tahun ini. Studi ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diadopsi oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik pada armada logistik perkotaan.
“Melalui forum ini, kami berharap dapat menjembatani berbagai perspektif serta mengidentifikasi langkah-langkah prioritas untuk mempercepat transisi menuju sistem logistik perkotaan yang lebih efisien, bersih, dan berkelanjutan,” tutup Gonggom.