August 31, 2026

ITDP Indonesia Kembali Hadir di Urban Social Forum, Mengusung Transportasi Publik yang Inklusif dan Berkelanjutan

ITDP Indonesia kembali menghadiri Urban Social Forums #12 sejak kehadiran pertamanya di 2014. Dihelat di SMA Kolese de Britto Yogyakarta pada 29 Agustus 2026, acara yang lebih dikenal sebagai USF ini mengusung slogan “Another City is Possible!”. Di USF kali ini, ITDP Indonesia Indonesia menghadirkan instalasi “Rekam Langkahmu, Raih Kotamu” dan diskusi panel “Langkah dan Kayuh yang Membentuk Kota: Merancang Ulang Mobilitas DIY yang Inklusif dan Berkeadilan”.

Dalam instalasi ini, pengunjung diajak untuk mengeksplorasi bagaimana kota membentuk cara warganya bermobilitas. Setelahnya, pengunjung diajak untuk menceritakan perjalanan dan moda kendaraan yang mereka gunakan lalu mencurahkan harapan mereka untuk transportasi publik Yogyakarta di masa depan.

Diskusi panel bertajuk “Langkah dan Kayuh yang Membentuk Kota: Merancang Ulang Mobilitas DIY yang Inklusif dan Berkeadilan” membahas mengenai bagaimana transportasi publik Yogyakarta bisa mengakomodasi mobilitas harian penduduk, komuter, pelajar/mahasiswa, wisatawan, hingga aktivitas ekonomi. Sebagai pusat pendidikan nasional, DIY menampung sekitar 439,2 ribu mahasiswa pada 2025, dengan konsentrasi terbesar di Sleman (64,4%). Sektor pariwisata juga terus tumbuh, tercermin dari pergerakan wisatawan di Kota Yogyakarta yang mencapai sekitar 1,59 juta orang hanya dalam sebulan (13 Juni–13 Juli 2026). Tingginya mobilitas ini berbanding lurus dengan tingginya kepemilikan kendaraan pribadi, dengan sekitar 2,97 juta sepeda motor tercatat di DIY pada 2025, yang memberi tekanan pada kapasitas jalan, parkir, ruang publik, dan konsumsi energi, terutama karena banyak titik perjalanan belum terhubung langsung dengan jaringan angkutan umum.  

Kondisi ini menegaskan perlunya pilihan mobilitas yang mampu menghubungkan perjalanan warga tanpa terus bergantung kepada kendaraan pribadi – hal yang menjadi topik pemantik dalam diskusi siang hari itu. Sebelum memulai diskusi, Senior Communications and Partnership Manager ITDP Fani Rachmita dan Wakil Direktur ITDP Indonesia Deliani Siregar mengajak para pengunjung untuk memainkan game di mana peserta memberikan pernyataan setuju atau tidak setuju ke prompt yang diberikan.

Prompt pertama “perempuan lebih sulit menggunakan transportasi publik dibanding laki-laki” melahirkan dua pernyataan pro dan kontra – argumen pro menceritakan pengalaman catcalling karena jarak halte yang berjauhan, keadaan trotoar yang sulit, serta merasa tidak aman karena pencahayaan jalanan yang kurang, sementara yang kontra tidak setuju karena perempuan lebih banyak menggunakan transportasi publik.

Prompt kedua membahas apakah bus listrik pemborosan anggaran. Ada yang menyatakan setuju karena memindahkan beban energi dari BBM ke listrik, ada juga yang merasa transisi ini tidak diperlukan. Ada juga yang kontra karena transisi ke bus listrik penting karena Trans Jogja mengeluarkan banyak asap hitam. Tim ITDP memberikan fakta bahwa bus listrik dapat menekan biaya operasional 30-40% dibanding bus diesel. Biaya penghematannya bisa digunakan untuk memperbaiki layanan dan membuka rute baru.

Prompt ketiga menanyakan apakah sepeda merupakan moda transportasi yang realistis untuk ibu? ITDP mencontohkan Amsterdam dan Copenhagen sebagai kota yang ramah pesepeda perempuan berkat infrastruktur yang memadai. Survei ITDP di Jakarta, Medan, dan Semarang menunjukkan selain infrastruktur parkir sepeda, pesepeda juga membutuhkan informasi tambal ban dan ruang ganti.

Sesi dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri oleh pembicara Kepala Dinas Perhubungan DI Yogyakarta Chrestina Erni Widyastuti, Pemerhati Transportasi Perkotaan Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., Senior Program Coordinator OHANA Nuning Suryatiningsih, dan Ketua B2W Jogja Noer Cholik. Wakil Direktur ITDP Indonesia Deliani Siregar memoderatori sesi diskusi ini.

Diskusi dibuka oleh Chrestina yang menceritakan soal perkembangan mobilitas Yogyakarta selama beberapa tahun terakhir. Transjogja saat ini memiliki 128 armada yang rencananya akan diremajakan, peningkatan kualitas layanan, penambahan CCTV, perencanaan integrasi dengan Grab, dan masih banyak lagi. Dishub DIY juga memiliki rencana untuk transisi ke bus elektrik, tetapi terhambat oleh kemampuan finansial.

Setelahnya ada Professor Ika yang menjelaskan pandangannya mengenai pola mobilitas Yogyakarta yang banyak diisi oleh pendatang. Kelengkapan infrastruktur pejalan kaki, jalur sepeda, transportasi publik, dan aplikasi bus-tracking tidak cukup untuk mendorong peralihan ke transportasi publik selama belum ada mindset change. Ia juga menyoroti perlunya mendengar kritik orang-orang dengan disabilitas terhadap jalur pejalan kaki, terutama di Malioboro. Dalam hal ini, Dinas Sosial perlu mengakomodir hak-hak mereka dan melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai hal ini.

Deliani merespons dengan menyebutkan pengalaman ITDP Indonesia dalam membuat halte-halte Transjakarta lebih inklusif. Prosesnya meliputi beta-testing, kolaborasi dengan organisasi difabel, memantau progress, dan standarisasi desain papan dan tap machine yang dilengkapi dengan braille. Dalam waktu setahun setelah pilot-testing, 144 halte Transjakarta telah dilengkapi dengan desain inklusif.

Diskusi berlanjut ke tantangan yang dihadapi dalam advokasi inklusivitas untuk orang dengan disabilitas oleh Senior Program Coordinator OHANA, Nuning Suryatiningsih. Ia menyebut adanya kegiatan “Morning Gathering” setiap dua bulan sekali yang mengundang anggota legislatif dan eksekutif untuk simulasi menggunakan alat bantu. Hal ini dilakukan untuk membangun sensitivitas terhadap pengalaman orang-orang dengan disabilitas sehingga diharapkan dapat membuat kebijakan yang inklusif.

Ketua Bike2Work cabang Yogyakarta Noer Choelik membagikan perspektifnya sebagai pesepeda. Menurutnya, Yogyakarta memiliki modal yang kuat untuk memajukan jalur sepeda karena banyak titik publik yang bisa ditempuh dengan mudah oleh sepeda. Sayangnya, kondisi jalan dengan lalu lintas cepat, jalur sepeda yang digunakan untuk parkir mobil dan keperluan infrastruktur lain yang menyebabkan pesepeda belum merasa aman.

Deliani merespons paparan para pembicara dengan membagikan pengalaman ITDP Indonesia dalam mendukung terwujudnya halte-halte Transjakarta yang lebih inklusif. Upaya tersebut dilakukan melalui proses co-design yang melibatkan organisasi penyandang disabilitas sejak tahap perencanaan hingga implementasi. Di tahun 2023, 13 halte Transjakarta telah dilengkapi dengan desain inklusif meliputi peta denah, peta halte, dan tapping gate dengan braille, serta bantuan petugas dan pengumuman informasi real time. Di tahun 2024, jumlahnya meningkat menjadi 144 halte.

Ia juga memaparkan kiprah ITDP dalam menyusun panduan dan rekomendasi pengembangan jalur sepeda di berbagai kota dan mendukung peningkatan infrastruktur sepeda di Yogyakarta.

Diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa mewujudkan inklusivitas perlu dimulai dari diri sendiri, kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi dan advokasi untuk memastikan hak mobilitas setiap orang terpenuhi demi menciptakan kota yang inklusif.

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Send this to a friend