August 26, 2026

ITDP Indonesia Tekankan Peran Masyarakat dalam Mewujudkan Kota yang Lebih Baik

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, ITDP Indonesia berpartisipasi dalam JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026. Diselenggarakan secara hibrida pada 19–20 Agustus 2026, forum ini mengusung tema “Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation”. Diskusi membahas berbagai aspek transformasi digital dan inovasi publik untuk meningkatkan kualitas tata kelola perkotaan, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan mahadata (big data), integrasi pengaduan masyarakat, serta komunikasi digital hingga inovasi dalam pelayanan publik.

Senior Communications and Partnership ITDP Indonesia, Fani Rachmita, hadir sebagai pembicara dalam sesi “Understanding Urban Needs: Citizen Voices for Better Public Service”. Sesi ini juga menghadirkan Kepala Unit Pengelola Jakarta City Ponirin Ariadi Limbong, yang memaparkan pemanfaatan AI dan media sosial oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk memproses dan menindaklanjuti pengaduan warga, serta Co-Founder What Is Up Indonesia? (WIUI) Abigail Limuria, yang berbagi pengalaman sebagai content creator dalam menyuarakan pentingnya partisipasi publik dalam kebijakan pemerintah.

Sesi diskusi dibuka dengan pemaparan ITDP Indonesia mengenai pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan kota. Bagi ITDP, partisipasi masyarakat merupakan bagian penting dalam memastikan desain dan kebijakan perkotaan dapat menjawab kebutuhan berbagai kelompok pengguna.

“ITDP menerapkan universal design sebagai core pekerjaan yang kami pegang teguh, di mana setiap keluarannya adalah desain kota yang bisa dinikmati atau digunakan oleh semua orang dari berbagai kalangan, aktivitas, umur, dan gender,” tutur Fani.

Salah satu pendekatan yang konsisten diterapkan ITDP adalah perencanaan partisipatif dan co-design. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat terlibat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari proses memahami kebutuhan, merancang solusi, hingga menguji hasilnya.

“Salah satu pendekatan yang konsisten kami terapkan adalah perencanaan partisipatif dan co-design, seperti Kota Kampung Bersama pada 2018, di mana ITDP bersama warga kampung kota merancang lingkungan yang lebih nyaman untuk berjalan kaki dan bersepeda; Jalan Jakarta, yang bekerja sama dengan MRT untuk menciptakan pengalaman berjalan kaki dan bersepeda dari dan menuju MRT; serta jalur sepeda di Sudirman–Thamrin, walau panjangnya tidak sampai seperempat dari target sekitar 300 kilometer,” ujar Fani.

Salah satu contoh awal perencanaan partisipatif yang dilakukan ITDP adalah proyek #PedestrianFirst. Inisiatif ini melibakan kolaborasi dengan FNF, Qlue, Jakarta Good Guide, dan iWasHere untuk mengajak warga berbagi cerita dan pengalaman berjalan kaki melalui foto, video, dan aktivitas komunitas.

“Pada 2017, ITDP Indonesia bekerja sama dengan Qlue mengajak warga Jakarta melaporkan kondisi fasilitas pejalan kaki—mulai dari kondisi trotoar, parkir liar di trotoar, sanitasi dan kondisi gang, hingga keberadaan PKL di trotoar. Melalui tagar khusus #PedestrianFirst, laporan warga ini tersaring otomatis menjadi data baru yang kemudian menjadi referensi dalam menyusun perencanaan peningkatan fasilitas pejalan kaki,” kata Fani.

Menurut Fani, data tersebut kemudian menjadi salah satu dasar Lokakarya Pengembangan Kapasitas Desain Jalan Lintas DKI Jakarta untuk mengimplementasikan konsep complete street dan prinsip desain universal di Jakarta.

Hasil #PedestrianFirst juga menjadi salah satu acuan dalam merumuskan prioritas wilayah perencanaan implementasi fasilitas pejalan kaki di Jakarta untuk lima tahun ke depan, yang kemudian dituangkan dalam Jakarta NMT Vision and Design Guideline. Salah satu wujud penerapannya adalah pembangunan Trotoar Cikini.

Selain #PedestrianFirst, Fani memaparkan contoh lain penerapan co-design melalui program Menuju Halte Inklusif Jakarta. Program ini melibatkan pengguna disabilitas sebagai tenaga ahli untuk memahami hambatan yang mereka hadapi, merancang solusi, dan menguji aksesibilitas halte.

Proses tersebut dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu desain kolaboratif, pembuatan dan uji coba prototipe, hingga implementasi. Sepanjang 2022, berbagai solusi diuji, termasuk peta taktil, indikator tapping gate, dan informasi audio. Pada 2023, sebanyak 13 halte Transjakarta mengimplementasikan desain tersebut secara permanen, dan jumlahnya bertambah menjadi 144 halte pada 2024.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Fani menekankan tiga hal penting dalam proses perencanaan dan desain yang melibatkan masyarakat.

“Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik: pertama, proses ini perlu memberi warga ruang untuk memengaruhi desain dan kebijakan; kedua, pemerintah perlu hadir sejak perumusan rekomendasi hingga implementasi untuk memastikan kebijakan berkelanjutan; dan ketiga, kemauan dari pemangku kepentingan untuk terus mendukung dan melanjutkan program setelah tahap uji coba selesai,” ujar Fani.

Di akhir diskusi, Fani kembali menekankan pentingnya melibatkan warga sejak tahap awal proses desain hingga pembangunan selesai. Partisipasi masyarakat bukan hanya dapat membantu memastikan penggunaan anggaran dan waktu yang lebih efisien, tetapi juga memastikan pembangunan infrastruktur benar-benar menjawab kebutuhan penggunanya.

Melalui pendekatan partisipatif dan co-design, ITDP Indonesia berkomitmen untuk memajukan transportasi publik yang terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif, sekaligus mendorong terwujudnya kota yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Tonton siaran ulangnya di sini.

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Send this to a friend