September 13, 2026
ITDP Indonesia Mengajak Keluarga Untuk Mengaudit Walkability Blok M
“Sudahkah Blok M ramah untuk keluarga?” menjadi pertanyaan yang dijawab dalam event Walking Tour Stroller Audit yang diorganisir oleh ITDP Indonesia, Buibu Baca Buku Book Club (BBBB) dan Jakarta Good Guide (JGG) pada Sabtu, 12 September 2026. Para pengasuh bersama anak-anak mereka diajak untuk bertualang mengelilingi Blok M sambil menilai aksesibilitas Blok M. Tak hanya itu, walking tour ini juga menjadi ajang untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kesenjangan antara penetapan TOD dan kondisi riil di lapangan serta ajakan untuk mendorong percepatan Blok M menjadi sepenuhnya kawasan TOD yang rendah emisi.
Anak-anak diberikan Passport Walking Adventure Blok M yang bisa ditempeli stiker dan dicap di tiap tujuan, sementara para pengasuh diberikan formulir audit daring. Rute perjalanan dimulai dari Malaya Street, M Bloc, menyusuri Jalan Trunojoyo menuju Jalan Palatehan. Di Jalan Palatehan, para peserta diajak untuk mendengarkan sejarah Perum Peruri dan mengidentifikasi serta memberikan opini mengenai fitur yang ada di sekitar jalanan – dari bollard, jalur sepeda, guiding block, wayfinding, dan kondisi trotoar.
Wakil Direktur ITDP Indonesia, Deliani Siregar, menjelaskan dan mempraktekkan fungsi dari bollard yaitu tiang pembatas jalan yang berfungsi sebagai pengaman jalur pejalan kaki sekaligus pembatas akses kendaraan bermotor, guiding block sebagai jalan pemandu bagi penyandang tuna netra, dan peta wayfinding untuk memberi petunjuk arah.
Perjalanan dilanjutkan ke Terminal Blok M, di mana para peserta diajak untuk menilai aksesibilitas jalanan dan keterbacaan wayfinding. Di sini, para peserta yang membawa stroller harus menggotong stroller-nya untuk naik dan turun tangga. Tantangannya tak berhenti di situ – para peserta juga harus melewati jalanan tidak rata yang juga dipenuhi oleh kendaraan bermotor.
Tujuan terakhir adalah Aloo Cafe, Melawai. Para peserta berkumpul untuk menceritakan pengalaman berjalannya. Tangga yang terjal dan trotoar yang belum rata menjadi keluhan utama. Salah satu peserta bahkan menyebut kawasan Blok M seperti “simulasi Hyrox dan game halang rintang karena sulit dilalui pengguna stroller.”
Sesi dilanjutkan dengan diskusi bersama perwakilan ITDP Indonesia, JGG, dan MRT, yang dimoderatori oleh BBBB. Deliani dari ITDP Indonesia menjelaskan bahwa Blok M merupakan bagian dari kawasan Transit-Oriented Development (TOD) atau Kawasan Berbasis Transit (KBT). Kawasan TOD di Jakarta merupakan kawasan yang berpusat pada stasiun MRT, dengan halte dan stasiun dalam jangkauan 350–700 meter serta dapat diakses dengan aman dan nyaman dengan berjalan kaki atau bersepeda.
Selain terintegrasi dengan transportasi publik, kawasan TOD juga perlu menyediakan hunian yang terjangkau, terkoneksi layanan sehari-hari, serta infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda yang memadai. Kawasan ini juga perlu didukung oleh perumahan dan fasilitas komersial yang padat.
“Kami mulai merasa ada gangguan dengan suara, karena banyak pengunjung dan kendaraan bermotor. Selain itu, ada gangguan bau pada kawasan, sehingga menjadi kurang menyenangkan,” tutur Farid, co-founder JGG dan pemandu tur siang itu. “Negara-negara tetangga atau SEAblings kita merasa Blok M terlalu banyak sekat sehingga untuk berpindah tempat harus berputar.”
Merespons Deliani dan Farid, Novindia Nurratnasari selaku perwakilan dari Marketing Communications Blok M Hub PT. MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan terkotak-kotaknya Blok M dikarenakan kepemilikan lahan dan gedung terpecah. Selain itu, pihaknya sedang melakukan proses revitalisasi dan beautifikasi Blok M.
“Saat kami survei, banyak pengunjung mengeluhkan tindakan kriminal dan aktivitas informal yang ada. Sehingga, yang bisa kami lakukan dalam jangka pendek adalah penyegaran, seperti Blok M Hub maupun peremajaan desain toilet yang lebih inklusif, “ ucap Novi. Ia juga menambahkan harapannya revitalisasi Blok M sudah mulai dirasakan dalam 5 tahun.
Dalam sesi feedback dari para peserta, Deliani memaparkan hasil audit walking tour dengan kelompok penyandang disabilitas. Hasilnya ternyata masih sama dengan 6 tahun kemudian.
Penempatan bollard masih disalahartikan menjadi penghalang masuk motor sehingga dibuat sempit dan tidak bisa dilalui pengguna kursi roda. Tangga juga masih menjadi penghalang akses untuk keluarga bersama anak dan penyandang disabilitas. Ada isu seperti polusi suara, fasilitas penyeberangan, dan tekstur trotoar yang rentan licin.
Deliani juga menunjukkan tangkapan peserta yang meliputi tidak ratanya area manhole, PKL yang menempati jalur pemandu, dan kabel utilitas yang rentan membuat pejalan kaki tersandung.
Sesi ditutup dengan pertanyaan: “Kalau masing-masing hanya boleh memilih satu perubahan yang perlu dilakukan agar pengalaman berjalan kaki di Blok M lebih aman, nyaman, dan inklusif, apa yang akan diprioritaskan?”
“Untuk kebutuhan jangka waktu dekat, tactical urbanism dapat menjadi solusi. Intervensi ini dapat menjadi cara untuk mendapatkan masukan dari masyarakat dan melihat apakah suatu desain bekerja dengan baik sebelum diterapkan secara jangka panjang.”
Farid memberikan perspektif lain. “Dengan berjalan kaki, kita bisa secara langsung merasakan fasilitas yang ada dan menuntut pemerintah agar terus bergerak ke arah yang lebih baik.”
Mengenai perbaikan fasilitas, Novi mengucapkan komitmen Blok M Hub untuk membenahi fasilitas-fasilitas yang ada. “Kami sudah mencanangkan kawasan ramah pejalan kaki, tetapi perlu koordinasi dengan para stakeholder terkait.”