September 14, 2026
=
ITDP Indonesia kembali menghadiri Urban Social Forums #12 sejak kehadiran pertamanya di 2014. Dihelat di SMA Kolese de Britto Yogyakarta pada 29 Agustus 2026, acara yang lebih dikenal sebagai USF ini mengusung slogan “Another City is Possible!”. Di USF kali ini, ITDP Indonesia Indonesia menghadirkan instalasi “Rekam Langkahmu, Raih Kotamu” dan diskusi panel “Langkah dan Kayuh yang Membentuk Kota: Merancang Ulang Mobilitas DIY yang Inklusif dan Berkeadilan”.
Dalam instalasi ini, pengunjung diajak untuk mengeksplorasi bagaimana kota membentuk cara warganya bermobilitas. Setelahnya, pengunjung diajak untuk menceritakan perjalanan dan moda kendaraan yang mereka gunakan lalu mencurahkan harapan mereka untuk transportasi publik Yogyakarta di masa depan.
Diskusi panel bertajuk “Langkah dan Kayuh yang Membentuk Kota: Merancang Ulang Mobilitas DIY yang Inklusif dan Berkeadilan”, pengunjung diajak berdiskusi mengenai arah mobilitas Yogyakarta yang dapat mengakomodasi kelompok pengguna rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, lansia, pekerja informal, dan pengguna transportasi publik lainnya serta menunjang aktivitas ekonomi dan sehari-hari masyarakat Yogyaakarta.
Sesi dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri oleh pembicara Kepala Dinas Perhubungan DI Yogyakarta Chrestina Erni Widyastuti, pemerhati transportasi perkotaan Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., Senior Program Coordinator OHANA Nuning Suryatiningsih, dan Ketua Bike2Work Yogyakarta Noer Cholik. Deputy Director ITDP Indonesia Deliani Siregar memoderatori sesi diskusi ini.
Sebelum memulai diskusi, Senior Communications and Partnership Manager ITDP Indonesia Fani Rachmita dan Deputy Director ITDP Indonesia Deliani Siregar mengajak para pengunjung untuk memainkan game di mana peserta memberikan pernyataan setuju atau tidak setuju ke prompt yang diberikan.
Diskusi dibuka oleh Chrestina selaku Kepala Dishub DIY yang menceritakan visi Trans Jogja sebagai angkutan kota yang ramah perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Trans Jogja saat ini memiliki 128 armada yang rencananya akan diremajakan agar tidak lagi menjadi “cumi-cumi darat” (mengeluarkan asap hitam). Selain peremajaan, Dishub DIY juga telah merencanakan peningkatan kualitas layanan agar sesuai standar pelayanan minimal (SPM), elektrifikasi bus, integrasi informasi, dan pemasangan CCTV empat sisi.
Namun, ada tantangan yang sedang dihadapi oleh Trans Jogja, yaitu infrastruktur first mile dan last mile (FMLM) dari rumah ke halte yang lebih dari 500 meter, armada yang terbatas membuat headway perlu diperpanjang, serta halte high deck yang secara bertahap diubah menjadi low deck untuk mengakomodasi kelompok disabilitas.
Setelahnya ada Pak Ika yang menjelaskan pandangannya sebagai pemerhati transportasi Yogyakarta. Saat ini, Yogyakarta perlu memprioritaskan jalur pedestrian yang lebih inklusif, lalu jalur sepeda, diikuti dengan transportasi publik. Sebagai akademia, ia mencontohkan street audit untuk melihat social perception kelompok disabilitas yang pernah ia lakukan di tahun 1998. Dari situ, ia menekankan bahwa riset harus diikuti dengan implementasi atau uji coba yang nyata.
Merespons paparan dari Bu Chrestina dan Pak Ika, Deliani menyebut sebagai pusat pendidikan nasional, DIY menampung sekitar 439,2 ribu mahasiswa pada 2025. Pergerakan wisatawan di Yogyakarta juga tercatat tinggi, mencapa 1,59 juta orang hanya dalam waktu sebulan (13 Juni-13 Juli 2026). Tingginya mobilitas ini berbanding lurus dengan tingginya kepemilikan kendaraan pribadi, dengan sekitar 2,97 juta sepeda motor tercatat di DIY pada 2025. Hal ini memberi tekanan pada kapasitas jalan, parkir, ruang publik, dan konsumsi energi, terutama karena banyak titik perjalanan belum terhubung langsung dengan jaringan angkutan umum. Kondisi ini menegaskan perlunya pilihan mobilitas yang mampu menghubungkan perjalanan warga tanpa terus bergantung kepada kendaraan pribadi.
Diskusi berlanjut ke tantangan yang dihadapi dalam advokasi inklusivitas untuk orang dengan disabilitas oleh Senior Program Coordinator OHANA, Nuning Suryatiningsih. Bagi kelompok disabilitas, masih banyak tantangan dalam naik transportasi umum, seperti adanya jarak antara halte dengan bus yang menyulitkan pengguna kursi roda untuk memasuki bus dan tidak adanya petugas untuk membantu penyandang disabilitas netra memberhentikan bus. Ia mengusulkan agar pejabat pemerintah untuk merasakan simulasi sebagai penyandang disabilitas. Harapannya pengalaman ini dapat mendorong pemerintah untuk menciptakan sistem transportasi yang inklusif.
Ketua Bike2Work cabang Yogyakarta Noer Choelik membagikan perspektifnya sebagai pesepeda. Menurutnya, Yogyakarta memiliki modal yang kuat untuk memajukan jalur sepeda karena banyak titik publik yang bisa ditempuh dengan mudah oleh sepeda. Sayangnya, kondisi jalan dengan lalu lintas cepat, jalur sepeda yang digunakan untuk parkir mobil dan keperluan infrastruktur lain menyebabkan pesepeda belum merasa aman. Ia juga menyoroti kosongnya parkir sepeda di halte Trans Jogja. Ia berharap penggunaan sepeda di masa depan tidak berhenti sebagai sarana rekreasi, tetapi juga untuk berkomuter.
Deliani merespons paparan para pembicara dengan membagikan pengalaman ITDP Indonesia dalam mendukung terwujudnya halte-halte Transjakarta yang lebih inklusif. Upaya tersebut dilakukan melalui proses co-design yang melibatkan organisasi penyandang disabilitas sejak tahap perencanaan hingga implementasi. Di tahun 2023, 13 halte Transjakarta telah dilengkapi dengan desain inklusif meliputi peta denah, peta halte, dan tapping gate dengan braille, serta bantuan petugas dan pengumuman informasi real time. Di tahun 2024, jumlahnya meningkat menjadi 144 halte. Ia juga memaparkan kiprah ITDP dalam menyusun panduan dan rekomendasi pengembangan jalur sepeda di berbagai kota, menambahkan bahwa ITDP Indonesia akan mendukung peningkatan infrastruktur transportasi dan sepeda di Yogyakarta.
Deliani menutup diskusi dengan menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan kelompok rentan seperti perempuan, lansia, penyandang disabilitas, pekerja informal, dan pengguna angkutan umum lainnya sebagai bagian dari perencanaan transportasi Yogyakarta. Memerhatikan aspek inklusif dalam perencanaan transportasi akan menciptakan sistem transportasi yang aman, mudah diakses, dan berkeadilan.