August 03, 2026

ITDP Indonesia Membagikan Pengalaman Dalam Mendesain Wayfinding Inklusif di SEATRAMS 2026

Besarnya peran transportasi publik bagi mobilitas kelompok disabilitas, anak, dan perempuan membuat aksesibilitas sebagai hal yangtak bisa diabaikan. Hal inilah yang menjadi pusat diskusi forum Southeast Asia Transit Accessibility and Mapping Skillsharing Workshop (SEATRAMS) pada 8-10 Juli 2026. Lokakarya yang bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia ini diselenggarakan oleh Clean Mobility Collective-Southeast Asia (CMC-SEA) dan Transport for Jakarta (FDTJ) sebagai forum kolaboratif antara pegiat, operator, desainer, dan perwakilan pemerintah untuk mendiskusikan dan berbagi pengalaman dalam membentuk transportasi publik yang lebih inklusif.

Acara ini diikuti oleh berbagai perwakilan dari Asia Tenggara. Sesi dibuka dengan sharing session oleh PLANMalaysia yang membagikan pelajaran mengenai desain urban, wayfinding, dan konektivitas first-last mile. Sementara itu, LRT Jakarta dan Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek sebagai perwakilan Indonesia mempresentasikan pengalaman dalam mengimplementasikan wayfinding berdasarkan Panduan Wayfinding Jakarta dan peran ganda wayfinding di arsitektur dan bisnis.

Urban and Visual Design Associate ITDP Indonesia Ayi Rachydni Safira di lokakarya SEATRAMS 2026.

Ayi Rachydni Safira, Urban and Visual Design Associate ITDP Indonesia sekaligus anggota tim penyusun Panduan Wayfinding Jakarta bersama FDTJ dan DRPM Universitas Indonesia (UI) membagikan pengalaman mengembangkan sistem wayfinding yang inklusif di transportasi publik Jakarta. Program yang didukung oleh UK PACT dan PUTI Q2 ini tak hanya berhasil mendesain ulang halte Transjakarta agar lebih inklusif, tapi juga mengukuhkannya sebagai peraturan daerah lewat Peraturan Gubernur (Pergub) No. 31 tahun 2022.

Dalam sesi presentasinya, Ayi menceritakan proses pengembangannya: dari melibatkan ahli dari Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) dan Persatuan Tunanetra (Pertuni) DKI Jakarta untuk membantu mendesain halte yang inklusif, melakukan survei awal, hingga mengimplementasikan uji coba wayfinding inklusif.

Halte Lebak Bulus dipilih sebagai halte percontohan karena fungsinya sebagai salah satu titik transit terbesar bagi sejumlah kelompok rentan utamanya disabilitas. Studi ini merekomendasikan intervensi-intervensi meliputi: pemasangan informasi visual dan audio di depan pintu peron, area tap kartu taktil, informasi braille di handrail gate halte, serta informasi visual dan braille di pemberhentian bus Mikrotrans dan bus low-deck.

Pengalaman ini tidak hanya mengajarkan pentingnya desain partisipatif dengan kelompok rentan, tapi juga bagaimana desain kota yang inklusif perlu dikukuhkan dalam bentuk peraturan pemerintah dan diimplementasikan secara permanen.

Pengalaman ini tidak hanya mengajarkan pentingnya desain partisipatif dengan kelompok rentan, tapi juga bagaimana desain kota yang inklusif perlu dikukuhkan dalam bentuk peraturan pemerintah dan diimplementasikan secara permanen.

Puncak dari lokakarya ini adalah Wayfinding Ideation Challenge, sebuah program di mana para peserta mengidentifikasi hambatan-hambatan aksesibilitas dan navigasi di Brickfields, Kuala Lumpur. Setelahnya, para peserta dikelompokkan untuk berkolaborasi dalam mendesain rekomendasi yang praktikal lewat diskusi multidisipliner.

Dalam kesempatan ini, Ayi yang tergabung dalam kelompok 3 memenangkan proposal terbaik yang menekankan pentingnya integrasi fisik melalui peningkatan infrastruktur jalan dengan penerapan road diet, penyeberangan yang lebih aman, dan pelebaran ruang pejalan kaki untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif sehingga sistem wayfinding dapat berfungsi secara optimal. Mengingat kawasan tersebut berada di dekat organisasi penyandang disabilitas netra, kelompok ini juga mengusulkan integrasi fitur wayfinding yang inklusif guna mendukung mobilitas secara mandiri. Selain itu, proposal tersebut merekomendasikan penyempurnaan sistem wayfinding yang sudah ada, terutama pada aspek kelengkapan informasi, keterbacaan, dan kontras visual.

Acara ditutup dengan para peserta menyetujui konsensus Southeast Asian Wayfinding and Accessibility Hub yang menekankan 1) pembangunan komunitas regional yang rutin membagikan pengalaman, ide, dan inspirasi untuk menyelesaikan tantangan aksesibilitas dan wayfinding; 2) mendorong wayfinding inklusif lewat kolaborasi dengan berbagai macam pengguna lewat mengadopsi prinsip desain yang berpusat pada manusia (human-centered design); dan 3) memanfaatkan data terbuka, riset, dan berbagai perangkat praktis untuk mendukung tata kelola yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan berbasis bukti di seluruh Asia Tenggara.

Subscribe

Sign up for updates on our projects, events and publications.

SIGN UP
Send this to a friend